by: Ryandika Y
Perkenalkan
nama saya Dimas Choilil Putra, saya mempunyai sahabat bernama Angga. Ia adalah
sahabat saya sejak kecil. Angga adalah
anak yang pintar, sejak TK sampai kelas 2 SMP sekarang ini ia telah menjuarai
beberapa perlombaan, salah satunya adalah ia pernah menjuarai olimpiade
matematika tingkat provinsi, boleh jadi banyak teman-teman yang bangga dan ada
juga yang iri kepada-nya.
Aku
dan Angga pun sering bersaing memperebutkan nilai tertinggi maupun peringkat 1,
tetapi aku tetap saja kalah. Pernah
sewaktu aku kelas 7 (setara dengan kelas 1 SMP), aku bersaing dengan Angga
untuk memperebutkan peringkat 1.
J-flash
back kelas 7-J
“Dimas kamu mau kita
bersaing memperebutkan juara 1 di kelas ?”.
Tanya Angga.
“Oke!, siapa takut”. Jawab Dimas.
“Terus apa hukuman untuk
yang kalah ?”. Tanya Dimas.
“Gimana kalau hukumannya
membersihkan kelas ?”. Usul Angga
“mmm, gak apa-apa tuh
hukumannya”. Ujar Dimas, sambil
mengacungkan jempol.
Setelah melalui ujian, dan
pada saat pembagian raport ternyata , Angga yang mendapatkan peringkat ke-1 dan
Dimas mendapatkan peringkat ke-2. Angga
menarik Dimas keluar kelas dan berkata
“sebagai hukuman, nanti
sehabis pembagian raport kamu bersihkan kelas ya ?, oke!”. Kata Angga.
“ya pak”. Jawab Dimas sambil tertawa.
Kemudian mereka tertawa
bersama.
J-Kembali
ke cerita-J
Tetapi
ternyata kelas kami berdua berbeda Angga 8.1, sedangkan aku (dimas) 8.6. Walaupun kelas kami berbeda aku dan Angga
semakin akrab.
-Dimas-
Saat
aku di kantin, sedang asyik menyuap bakso aku di kagetkan oleh bidadari yang
turun dari langit dan akupun terdiam, “Dim kenapa kamu ?”. Tanya Angga.
“I..tu.. a…da… bidadari turun dari langit”. Jawab aku, sambil berbicara agak gagap. “Mana ?”.
Tanya Angga lagi, sambil mencari-cari bidadari yang di maksud oleh
sahabatnya itu. “Itu di deket tukang
bakso”. Jawab ku. “Sudah gila kamu ya dim ?, pak muklis di
sebut bidadari”. Kata Angga sambil
menampar pipiku, dan bakso terakhir ku lenyap sudah jatuh ke lantai. “Aduh, hah pak muklis, yah jatuh kan
baksonya”. Kata ku sambil memasang muka
kaget dan melas. “hahahahaha”. Tawa Angga.
“Angga ganti baksonya, harus ganti pokoknya, gak mau tau”. Marah ku.
“gak mau, weee”. Ujar Angga dan
langsung berlari keluar kantin. Oh ya, Pak
muklis adalah penjaga sekolah kami.
Saat
pulang sekolah aku tidak pulang bersama dengan angga karena aku ada tugas yang
belum aku selesaikan. Sewaktu aku keluar
dari sekolah aku melihat perempuan yang ku lihat pagi tadi di kantin. Saat aku
sedang di jemputan termahal ku yaitu angkot, aku melihat perempuan itu dari
kejauhan, ku lihat ia sedang menuju ke arah angkot yang ku naiki, firasat ku
berkata ia akan naik angkot ini, dan firasat ku benar, ia semakin mendekat
dengan angkot yang ku naiki dan akhirnya ia naik angkot yang ku naiki. Di perjalanan aku bimbang, mau kenalan atau
tidak dengan perempuan itu. Dan akhirnya
aku putuskan untuk membuka percakapan dengan perempuan itu. “Hai, perkenalkan namaku Dimas Choilil Putra,
nama kamu siapa ?”. sapa ku memulai
percakapan. “Hai juga, nama ku Kirana
Dwi Putri, panggil aja kirana”. Balas dia
memperkenalkan diri. “bang, bang, kiri bang”.
Ujar ku memberhentikan angkot. “Aku duluan ya”. Ucap ku. “iya”. Ucap dia.
Teeeet …teeeet …teeeet
Bel istirahat berbunyi
_Angga_
Di
perjalanan menuju ke kantin. “Dim
kemarin kamu kemana aja ?”. Tanya ku. “Habis ngerjain tugas”. Jawab dimas.
“Oh, pantes aku tungguin di gerbang sekolah gak nongol-nongol”. Ucap aku.
“Oh ya, kemarin aku bertemu dengan perempuan, yang ku maksud di kantin
kemarin pagi”. Kata Dimas.
“Kamu kenalan sama dia ?”. Tanya
Angga. “Ya dong”. Ujar Dimas.
“Namanya siapa ?”. Tanya aku. “namanya kalo gak salah Kirana”. Jawab Dimas.
“Kelas berapa dia ?”. Tanya ku
lagi. “Nggak tau deh, aku belum sempat
ngobrol sama dia lebih lama”. Jawab
Dimas. “Oh, nanti mau pulang sama aku
gak ?”. Tanya ku, memastikan. “mmm……, gak tau deh”. Jawab Dimas bimbang. “Oh yaudah nanti aku tunggu di pintu gerbang
sekolah selama 20 menit setelah pulang sekolah, oke !”. Ucap aku.
“oke deh”. Jawab Dimas.
Teeeet … teeeet … teeeet
Bel pulang sekolah
berbunyi
“Aduh
si Dimas kemana sih ?, lama banget, malah aku kebelet lagi”. Gerutu ku. Selama 20 menit aku menunggu di
pintu gerbang sekolah, Dimas tidak muncul juga, akhirnya aku tinggal Dimas di
sekolah.
-Dimas-
“Akhirnya
selesai juga”. Ucap aku lega. Saat aku keluar kelas, ternyata, aku
bertabrakan dengan Kirana. “Aduh”. Ucap Kirana.
“Aduh, maaf-maaf, tidak sengaja”.
Ucap aku. “Iya-iya, Dimas
?”. Sapa Kirana. “Iya, Kirana ?”. Sapa aku.
“iya, ternyata kita bertemu lagi ya”.
Kata Kirana. “iya-ya gak nyangka”. Ujar aku.
“oh ya, mau pulang bersama tidak ?”.
Tanya Kirana. “mau, lagian teman
aku sudah ninggalin aku”. Kata aku. “Yaudah, pulang yuk”. Seru Kirana.
“Yuk”. Ucap aku. Di perjalanan kami mengobrol banyak
sekali. “Oh ya, aku mau tanya, kamu
kelas berapa ?”. Tanya aku. “Aku kelas 8.5, kamu kelas berapa ?”. Kata Kirana berbalik bertanya. “Aku kelas 8.6, kok aku gak pernah ngeliat
kamu ya ?”. Tanya aku. “Iya, soalnya aku
baru pindah”. Jawab Kirana. “Ohhh, baru pindah toh”. Kata aku. “Kamu turun dimana Dim ?”. Tanya Kirana.
“Oh iya, hampir lupa”. Ucap
aku. “Bang udah sampe mana ini bang
?”. tanya aku. “Udah sampe toko buku indah”. Jawab abang itu. “hah, kelewat”. Ucap aku.
“Kelewat apaan ?”. Tanya Kirana. “Rumah”.
Jawab aku sekenanya. “Rumah
?”. Tanya Kirana lagi. “Rumah aku kelewat”. Kata aku kebingungan dan terpaksa aku harus
berjalan kaki ke rumah.
_Angga_
Di
kantin, “Dim, aku punya kenalan baru loh”.
Ucap aku. “Kenalan apaan ?”. Tanya Dimas.
“Kenalan sama perempuan”. Jawab
aku. “perempuan ?, siapa namanya
?”. Tanya Dimas. “Namanya Kirana Dwi Putri”. Jawab aku.
“Kirana Dwi Putri ?”. Tanya
Dimas, mengulang nama yang ku katakan.
“Iya”. Ucap aku. “Kok kaya pernah kenal ya namanya ?, dia
kelas berapa ?”. Tanya Dimas, seperti
mengintrogasi. “Dia kelas 8.5”. Jawab aku lagi. “hah, 8.5”.
Ucap Dimas. “Kamu kenapa Dim ?,
kok kaget gitu sih ?”. Tanya aku. “Dia itu yang waktu itu aku certain sama
kamu”. Ujar Dimas. “Oh itu dia, terus mau di apain si Kirananya
?”. Ucap aku sekenanya. “Gak sih”. Ucap Dimas lalu pergi meninggalkan aku di
kantin. “Si Dimas kenapa ya ?, kok aku
kenalan sama si Kirana dia jadi gak karuan begitu ya ?, udahlah biarin aja lah
mungkin dia hanya kaget kali ?”. Ucap
aku bertanya-tanya dalam hati.
-Dimas-
“Kok
si Angga bisa kenalan ya sama Kirana ?, tau dari mana dia ya ?”. Ucap aku dalam hati. Bel pulang sekolah sudah berbunyi aku tunggu
si Angga di pintu gerbang sekolah, ternyata dia keluar bersama Kirana gadis
cantik itu. Kemudian aku melambaikan tangan kepada Angga “Angga mau pulang gak ?”. Tanya aku, sambil berteriak. “Iya”.
Ucap Angga. Akhirnya aku pulang
bertiga, aku,Angga,dan Kirana. Di angkot
aku dan Kirana duduk bersebelahan, jantungku serasa berdetak lebih kencang dari
sebelumnya.
Setelah
sampai di rumah aku langsung membanting diriku ke tempat tidur kemudian aku
memegang dadaku dan sampai sekarang dadaku masih berdebar-debar tak
karuan. “Apa yang terjadi ya tuhan”. Kata ku dalam hati. Kemudian lama-kelamaan aku terlelap dan
bangun esok pagi.
~Kirana~
Semenjak
aku bertemu sama Dimas, aku merasa ada yang berbeda dari aku. “Hai”.
Sapa Dimas. “Hai juga”. Balas ku.
“Kamu habis dari mana ?”. Tanya
Dimas. “Dari UKS”. Jawab ku.
“Memang kamu kenapa ?”. Cemas
Dimas. “Gak apa-apa kok, Cuma pusing
aja”. Ucap ku. “Oh, yaudah hati-hati ya !”. Ujar Dimas.
Aneh, tidak biasanya Dimas seperti itu kepadaku.
_Angga_
Bel
pulang sekolah telah berbunyi, aku keluar dari sekolah sambil mencari-cari Kirana,
karena aku mau memberi dia puisi baru-ku (sejak kapan bikin puisi). “Kiranaaa”.
Teriak ku. Kirana mencari siapa
yang baru saja menyebut namanya. “Di
sini”. Kata ku, sambil melambaikan
tangan. Kirana pun mendekat ke arah
ku. “Kirana aku punya puisi baru nih,
mau baca gak ?”. Tawar ku. “Mau dong”.
Ucap dia. “Di baca ya dirumah”. Seru ku.
“Iya”. Ujar dia. “Janji ?”.
Tanya ku. “Iya, janji’. Jawab dia.
~Kirana~
‘Karangan
Cinta’
Di
ujung jalan ku melihat mu
Bersama
dua orang teman mu itu
Berjalan
mendekat ke arah ku
Ingin
hati ini berkenalan dengan mu
Tetapi
jiwa ku belum begitu kuat
Untuk
berkenalan dengan mu
“Bagus
juga puisinya”. Ucap ku dalam hati. Setelah membaca puisi itu aku langsung
membanting diri ku ke tempat tidur ku,
dan langsung terlelap. Keesokan
hari, “Angga !”. Panggil ku. Angga langsung menghampiri diri ku. “Iya, ada apa ?”. Tanya Angga.
“ini puisi yang kemarin kamu kasih ke aku”. Ujar ku sambil menyodorkan kertas putih itu
ke Angga. “Udah simpan aja sama kamu !”. Seru Angga.
“Loh, ini kan punya kamu”. Kata
ku. “Udah simpan aja, lagian aku udah
ada kok salinannya, kalau kamu mau puisi lagi aku buatkan, bilang aja ya,
oke!”. Kata Angga sembari mengembalikan
kertas itu kepadaku.
(Other)
“Dim,
aku boleh curhat gak sama kamu ?”. Tanya
Angga. “Boleh kok, emang mau curhat apa
?”. Ucap Dimas. “gini loh sebenarnya aku tuh suka sama
Kirana”. Ujar Angga. ‘hah Angga suka sama perempuan yang sama-sama
aku suka’. Ucap ku dalam hati. “Terus ?”. Tanya Dimas ingin tahu. “Terus, aku mau nembak dia, tapi gimana ya
nembak nya ?”. Tanya Angga bingung. “Yaudah, kalau kamu mau nembak, ya tinggal nembak
aja”. Kata Dimas. “Terus nembak nya gimana ?”. Tanya Angga.
“Kamu ketemuan sama dia, di suatu tempat, terus kamu bilang aku sama
kamu, kamu mau gak jadi pacar aku, begitu”.
Ucap Dimas. “Oh, oke-oke !”. Ujar Angga.
Setelah
pulang sekolah, Angga menunggu Kirana di pintu gerbang sekolah. “Kiranaaa !!”. Panggil Angga. “Iya”.
Jawab Kirana. “Mau ikut aku gak
?”. Tanya Angga. “Kemana ?”.
Tanya Kirana. Tanpa persetujuan dari Kirana, Angga langsung menarik
Kirana ke belakang sekolah. “Kirana
sebenarnya aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku ?”. Tanya Angga.
Kirana terdiam sesaat, kemudian berkata, “Mmmm, gimana ya ?”. Kirana bimbang. ‘sebenarnya aku gak suka sama kamu, aku tuh
sukanya sama Dimas’, kata ku dalam hati.
“Yaudah deh, terserah kamu mau jawab pertanyaan aku tadi kapan, aku
pasti siap kok”. Ucap Angga.
~Kirana~
“Ya
tuhan, apa yang harus ku lakukan terhadap perasaan ku ?”. Ujar ku.
“Aku sebenarnya tidak suka sama Angga, tetapi aku sukanya sama
Dimas”. Ucap ku. “Apa aku harus terima Angga ?”. Kata ku bimbang.
Keesokan
hari
“Anggaaa
!!”. Panggil aku. Angga mendekat ke arah Kirana. “Iya, ada apa
?”. Tanya Angga. “Untuk pertanyaan kemarin, aku mau kok terima
kamu jadi pacar aku”. Kata aku. “Yang bener, kamu gak terpaksa kan ?”. Tanya Angga kegirangan. “Gak kok”.
Ucap aku. “Yaudah, berarti mulai
sekarang kita pacaran ?”. Tanya Angga. “Iya dong”.
Kata aku. “Yeah”. Ucap Angga.
-Dimas-
“Angga
!!”. Panggil aku. Angga menengok ke arah ku. “Iya ?”.
Tanya Angga. “Kamu udah jadian ya
sama Kirana ?”. Kata aku. “Iya”.
Ucap Angga. “Sebenernya aku mau
jujur atas perasaan ku selama ini, sebenernya aku suka sama Kirana”. Ucap ku.
“Hah!!”. Ujar Angga kaget. “Yaudah, tapi aku seneng kok, kalau kamu
jadian sama Kirana”. Ucap ku agak
sedih. “Tapi…”. Belum sempat Angga bicara, aku lalu pergi
meninggalkan Angga.
‘Kini
Angga tidak akan pulang bersama aku, begitu pun Kirana’, kata ku dalam hati, aku harus bilang ke
Kirana kalau aku akan pergi jauh dari hidupnya.
~Kirana~
Saat
jam istirahat, Dimas menghampiri ku sambil membawa secarik kertas yang berisi
‘Kirana
maafkan aku, bukan maksud ku untuk begini, tapi aku sudah tak tahan lagi, aku
ingin membicarakan hal ini dengan mu sejak pertama kali aku bertemu dengan mu,
sebenarnya aku suka padamu semenjak aku pertama kali melihat mu di kantin saat
jam istirahat, saat aku bertemu dengan mu di angkot lalu berkenalan dan aku
mengetahui nama mu aku senang sekali, dan kita jadi sering pulang bersama, akan
tetapi aku belum siap untuk menjadikan mu pacarku karena aku belum begitu jauh
mengenal dirimu, dan Angga muncul dalam dunia kita berdua, ia berkenalan dengan
mu dan dalam beberapa hari, Angga langsung menjadikan dirimu pacar. Dan kini aku tidak akan mengganggu dunia
kalian berdua yang baru saja kalian bangun beberapa hari lalu, kini aku lebih
baik pergi dari dunia kalian berdua, karena aku hanya bisa merusak dunia kalian
berdua. Selamat tinggal !!’
itulah isi kertas yang di
beri oleh Dimas.
_Angga_
Aku
dan Kirana, menghampiri Dimas yang sedang berjalan menuju pintu gerbang
sekolah. “Dim, kalau kamu suka sama
Kirana, cerita dong sama aku, kan kalau kamu cerita pasti gak bakal kejadian
kaya gini kan !”. marah ku. “Maksud kamu apa sih Ang ?”. Tanya Dimas keheranan. “Apa maksudnya kertas ini ?”. Tanya ku dengan nada tinggi. “Mmmm…anu...eh”. Ucap Dimas bingung mau bicara apa. “Yaudah, gini aja, aku dan Kirana putus, kamu
jadian sama Kirana, oke ?!”. Ujar ku. “Hah ?, kok gitu, gak-gak, aku gak mau kamu
sama Kirana putus hanya gara-gara aku”. Ujar
Dimas. Kirana hanya bisa terdiam. “Aku pasti bahagi melihat orang yang ku
sayang bahagia, walaupun tidak bersama ku”.
Ucap ku. “Gak kok, aku gak
apa-apa”. Ucap Dimas, langsung berlari
menuju keluar sekolah dan menyebrang kejalanan raya. “Dimas”.
Cegah aku. CKIIIT!!, terdengar suara
dari arah jalan raya. Kirana menoleh ke
jalan raya. Kirana dan aku melihat tempat Dimas menyebrang di kerumuni
orang-orang. Jantungnya berdegup
kencang, ia segera berlari kea rah kerumunan di ikuti oleh Angga. Jangan
sampai ini terjadi… jangan …!, Kirana membatin.
Ia
menyeruak kerumunan dan mendapati seorang laki-laki yang baru saja hadir dalam
hidupnya, terbujur di tengah jalan di bahasi oleh darah di sekujur tubuhnya. Ia
memekik pelan dan berteriak dalam hati, mengapa
ini harus terjadi ?, mengapa ?, padahal ia baru saja hadir dalam dunia ku,
mengapa Tuhan ?.
èTAMATç