4/11/2012

PERPISAHAN UNTUK SELAMANYA



               By: Erina N.L 
Salam kenal, namaku Angelina Tiffany Rusthon. Aku biasa di panggil Angel. Aku duduk di kelas 8. Aku mempunyai cukup banyak teman di kelasku. Langsung saja ya, ceritanya..........
Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah bagiku. Aku langsung bangun dari tidurku dan langsung membuka jendela yang ada di kamarku.
Aku  : “ Udara pagi ini sangat sejuk sekali.” (Kataku sambil melihat matahari yang akan terbit dari Ufuk Timur)
Tiba-tiba Mom masuk ke kamarku.....
Mom : “ Angel, kenapa kamu diam saja di dekat jendela ?” (Tanya  Mom)
Aku  : “ Tidak Mom, aku hanya menghirup udara segar.” (Jawabku)
Mom : “ Ya sudah, cepat sana mandi. Nanti kamu telat masuk sekolah. (Kata Mom)
Aku  : “ Ya Mom.” (Kataku sambil beranjak keluar dari kamarku)
        Setelah aku selesai mandi, berpakaian, dan sarapan. Aku segera pergi ke sekolah. Aku biasanya pergi ke sekolah menggunakan bus. Setiap aku pergi ke sekolah, aku selalu pergi bersama sahabat karibku yaitu Eliza. Aku biasanya pergi bersama Eliza dan Maryane, tapi sekarang ini Maryane sedang berlibur ke Ceko.
        Setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku seperti biasa, pulang bersama sahabat karibku yaitu Eliza. Hari ini Maryane akan pulang dari Ceko. Kuharap ia membawa tanda tangan Artis yang bernama Carlina Chev yang terkenal di Ceko. Pada saat aku sampai ke rumah, aku langsung melempar tas ku ke sofa dan merebahkan diriku ke sofa. “ Hai.” (Sapa Kakakku Keyllie). “ Hai juga.” (Balasku dengan lemas).
        Setelah beberapa menit aku merebahkan diriku. Aku segera menuju ke kamar untuk ganti baju. Setelah selesai ganti baju, aku langsung pergi keluar rumah untuk menjemput Eliza. Jarak antara rumahku dan rumah Eliza hanya berjarak 10 rumah dari rumahku.
        Sesampainya di rumah Eliza, aku langsung mengajak Eliza ke rumah Maryane. Kami berdua pergi ke rumah Maryane menaikki metromini. Kami berhenti di sebuah rumah yang dipenuhi bunga di halamannya yaitu rumah Maryane. Saat aku menekan bel rumah Maryane, Maryane yang  membukakan pintu dan menyuruh kami berdua ke kamarnya. Kemudian, Maryane memberiku tas katun. “ Kok katun ?” (tanyaku). “ Kalau pakai plastik, aku yakin itu akan kau buang ke tong sampah. Itu baru akan terurai 100 tahun lagi! Dan kalau pakai kertas, selain gampang robek dan rusak, sama saja menebang pohon yang masih muda.” (Jawab Maryane dengan panjang lebar). Sungguh pencinta lingkungan !
        Aku membuka tas katunku. Ada baju, sandal, rok, dan topi lebar. Tapi tunggu dulu, ada sebuah kertas. Kulihat kertas itu, ternyata itu adalah tanda tangan Artis Carlina Chev yang terkenal di Ceko.            “ Wah..... (Kataku sambil berdecak kagum) kau memberiku tanda tangannya (Lanjutku).........                                                                                       
“ Ya, aku tidak akan melupakan sahabatku. Kalian suka ?”             (Tanya Maryane).
Aku tersenyum senang dan Eliza mengangguk riang.
        Pagi ini adalah hari minggu, itu berarti sekolah libur. Aku mendengar ada suara telefon berbunyi. Aku segera mengangkatnya.                 “ Angel, kita pergi ke pantai yuk ?” (Ajak Maryane sambil berteriak). “ Aduh, Maryane pagi-pagi saja kau sudah berteriak.” (Jawabku).                     “ Maaf ya, kau mau ikut tidak ?” (Tanya Maryane).                                “ Ya sudah, memang sama siapa saja ? Dan naik apa ? Bukankah pantai agak jauh dari sini ?” (Tanyaku).                                                                                 “ Kita ajak Eliza dan teman-teman lainnya. Kita akan naik mobil pribadiku. Tenang, mobil pribadiku ada 4 kok, cukup untuk mengajak 15 orang.” (Jawab Maryane).                                                                  “ Ya sudah, dah dulu ya ?” (Jawabku sambil mengakhiri telefon). Maryane itu orangnya sangat menyukai pantai. Menurutnya, pantai adalah tempat paling eksotis. Dia bisa melakukan hal-hal di pantai, seperti berenang, berjemur, dan lain-lain. Sebenarnya aku ga niat ikut sih. Tapi, mau bagaimana lagi dia kan sahabatku !
        Hari demi hari berlalu. Aku sedang mengobrol bersama Maryane di kelas. Tiba-tiba Eliza masuk ke kelas, wajahnya terlihat pucat hari ini. “ Kau kenapa ?” (Tanya Maryane dengan singkat). “ Wajahmu terlihat pucat (Timpalku). “ Tidak ada apa-apa.” (Jawab Eliza dengan tersenyum masam). “ Aku tahu, ada yang kamu sembunyikan kan ?” (Tanya Maryane tiba-tiba). “ Tidak. Istirahat nanti kalian bisa ke taman kan ? aku pasti ada disana.” (Jawab Eliza sambil beranjak pergi). “ Kenapa dengan anak itu ?” (Tanya Maryane kepadaku), aku mengangkat bahu.
Setelah bel istirahat berbunyi, aku dan Maryane langsung menuju ke taman. Sebenarnya aku lapar sekali sih. Tapi tak apa, demi sahabatku apa sih ya nggak! Aku dan Maryane langsung duduk di sebelah Eliza.  “ Eliza, sebenarnya apa yang terjadi ?” (Tanya Maryane). “ Apa kau tidak mau berbagi cerita lagi dengan kami ?” (Tanyaku). “ Bukan begitu teman-teman..... A...A-k...Aku divonis terkena kanker darah.” (Jawab Eliza sambil terputus-putus dan menangis dengan terisak-isak).  ”...”  “...” Kami bertiga kemudian terdiam. Aku dan Maryane, spontan langsung memeluk Eliza. “ Kau tidak bercanda kan Eliza ?” (Tanyaku). “ Tidak. Kemarin pada saat aku tes darah. Kata dokter, aku divonis terkena kanker darah.” (Kata Eliza). “ Memangnya tidak ada obat untukmu sembuh ?” (Tanya Maryane). “ Tidak. Kanker belum ada obatnya.” (Jawab Eliza).   
        Tiba-tiba Eliza pingsan. Wajahnya terlihat pucat sekali hampir seputih kertas. Aku dan Maryane langsung meminta bantuan kepada anak laki-laki untuk membawa Eliza ke Rumah Sakit yang ada di- seberang sekolahku.
        Sore ini, aku dan Maryane akan menjenguk Eliza di Rumah Sakit. Sebelum kami menjenguk Eliza, aku dan Maryane sepakat membelikan buah-buahan kesukaan Eliza, yaitu buah apel, anggur, dan buah naga.                “ Eliza di rawat di ruang 195 (Kata seorang perawat). Sesampainya di dalam ruangan Eliza. Aku langsung memanggilnya. Eliza pun langsung tersenyum senang. “ Kelihatannya kau sudah mulai membaik. Nih, kami membelikan buah-buahan untukmu.” (kataku sambil memberikan buah-buahannya ke Eliza). “ Ya. Terima kasih ya Angel, Maryane.” (Kata Eliza dengan lemas) Oh ya, Ibu pergi kemana ?” (Timpal Eliza sambil menyapukan pandangannya). “ Oh... Ibumu tadi keluar bersama seorang Dokter. Doktermu bukan ?” (Tanya Maryane). “ Ya, wah ada apa nih ?” (Kata Eliza cemas). “ Tenang, semuanya pasti akan baik-baik saja.” (Jawabku sambil mengupaskan buah apel untuk Eliza). Setelah kami berbicara cukup lama. Tak terasa jam besuk sudah berakhir pukul empat sore. Aku dan Maryane segera pulang.

Pagi ini, perasaanku agak kurang enak. Mungkin karena Eliza berada di Rumah Sakit, sementara aku dan Maryane bisa bersenang-senang di sekolah. Aku sedang duduk di kelas dan masih memikirkan tentang Eliza. “ Hey..... melamun saja kau ini. Memangnya ada apa ?” (Tanya Alexandra). “ Kemarin Eliza pingsan di taman.” (Jawabku).                   “ Siapa bilang ?” (Jawab seseorang di belakang pintu). “ Eliza.” (Kataku sambil tak percaya). “ Kenapa kau masuk sekolah ?” (Tanya Maryane dengan cemas). “ Aku tidak apa-apa kok. Kata Dokter aku sudah boleh masuk sekolah. Sudahlah, tidak perlu mencemaskanku.” (Ucap Eliza). “ Wajahnya terlihat lebih pucat daripada kemarin.” (Gumamku).
        Pada saat jam pelajaran, Mr.Mark menyuruhku untuk duduk dengan Eliza. Padahal aku duduk dengan Tania, sedangkan Eliza duduk dengan Alexandra. Selama jam pelajaran, Eliza seperti orang yang habis mabuk, kadang tertidur, dan memegangi kepalanya (Mungkin ia sakit kepala).
        “ Aku ingin ke taman.” (Pinta Eliza kepadaku dan Maryane).               “ Eliza, minum obatmu dulu.” (Kataku sambil berteriak di koridor dekat taman). Setelah Eliza meminum obatnya, ia langsung berlari menuju taman. Aku dan Maryane langsung menyusul Eliza. Hujan turun berintik-rintik, gerimis! “ Eliza, sudahlah nanti kamu semakin sakit! (Ucapku). “ Tidak. Ayolah semuanya, keluarlah dan bermainlah.” (Teriak Eliza). Entah kenapa awalnya anak kelas 7 yang bermain, akhirnya anak kelas 9 pun ikut bermain di bawah kubangan air.                       “ Kenapa Pak Kepala Sekolah tidak melarangnya ya ? Terutama Mr.Harold.” (Pikirku dalam hati). Aku dan Maryane harus memegangi Eliza. “ Kurasa, langit menangis.” (Gumamku).
        Tiba-tiba Eliza pingsan lalu muntah. Bukan muntah biasa, tapi muntah darah! “ Eliza sudah kubilang kan. Eliza bertahanlah!” (Kataku sambil menengok ke kanan dan ke kiri). Tau tidak, orang-orang yang sedang bermain langsung mengerubungiku, Maryane dan Eliza.                                “ Sudahlah Angel, aku senang melakukan hal-hal yang aku sukai. Aku ingin memanfaatkan sisa hidupku untuk membuat orang lain senang.” (Kata Eliza dengan suara parau).                                       
*Seperti kupu-kupu yang indah di pagi hari                                      *Mereka terbang dengan sayapnya yang indah juga terlihat kuat                                      *Tapi tahukah kamu ?                                                                         *Mereka akan meninggalkan sayapnya begitu  saja                                                                                                     *Keindahan yang sementara bukan ?
Kataku sambil membacakan isi bait pertama puisiku. “ Aku senang sekali mempunyai sahabat yang baik sekali seperti kalian, Angel, Maryane.” (Ucap Eliza dengan kata-kata terakhirnya). Dan Eliza pun akhirnya tersenyum dan menutup mata untuk selamanya. Akhirnya Eliza pun di bawa ke Rumah Sakit. Aku dan Maryane sudah tidak tahan lagi melihatnya.
Ibu Eliza datang dengan tergopoh-gopoh. Mukanya sudah merah (mungkin menahan sedih). Aku, Maryane, Tania, dan Alexandra hanya menunggu di luar ruangan Eliza. Beberapa menit kemudian, Dokternya Eliza keluar dengan kepala tertunduk. “ Sabar ya...” (Kata dokter).                          “ Maksud Dokter apa ?” (Tanya Maryane). “Dia meninggal.” (Kata Dokter dengan menahan sedih). “ Aku, Maryane, Tania, dan Alexandra langsung masuk ke dalam ruangan Eliza. Aku seperti di film-film, tetapi ini terjadi pada sahabatku sendiri. Keluarga Eliza mengerubungi Eliza. Aku mendengar kakaknya, yaitu Missy. Dia menangis dan mengatakan, “ Dasar penyakitan!” Tapi aku yakin, itu tanda kesedihannya. Karena Missy nggak bisa menghadapi kenyataan kalau adiknya sakit separah itu.
Aku dan Maryane menangis tiada henti. Akhirnya, kami di pulangkan lebih awal. Kami tidak bisa datang ke pemakaman Eliza, karena Eliza akan di makamkan di kampung halamannya yaitu di- Belanda.
Setelah beberapa hari Eliza berpulang (Meninggal dunia). Pada saat liburan panjang, aku dan Maryane akan berkunjung ke- pemakaman Eliza yaitu di Belanda. Sesampainya di Pemakaman Eliza, Kami hanya dapat mendo’akan Eliza, “ Semoga kau tenang di alam sana, kami akan slalu mengenangmu sepanjang hidup kami. Kami sangat senang memiliki sahabat yang baik sepertimu, Eliza.” (Ucapku dan Maryane sambil menangis). Setelah kami berdo’a cukup lama, kami akan meninggalkan pemakaman Eliza. Sebelum kami beranjak dari pemakaman Eliza, Kami berkata “ Kau sahabat yang tidak akan pernah kami lupakan.” (Ucap kami secara bersamaan dan segera pergi meninggalkan pemakaman Eliza).  
^ SELESAI ^

1 komentar:

  1. Play Casino | Ghana | GoyangFC
    Play online 피망포커머니상 casino games in Ghana. Experience world class gambling at Goyang, Ghana. Try your luck on 페이 백 먹튀 top promotions 라이트닝 바카라 and find 넷마블 토토 사이트 a top gaming site 블랙 잭 전략

    BalasHapus