By: dinda A
Mentari
telah menampakkan diri. Aku menyambut pagi dengan ceria. Menghirup udara segar.
Aku bergegas pergi ke sekolah. Aku tidak pergi sendiri ke sekolah, aku pergi
bersama temanku, Lisa.
Setelah
sampai di sekolah, aku mendengar pengumuman bahwa besok libur tiga hari karena
ada Try Out. Waktu pelajaran telah berakhir. Aku bergegas meninggalkan sekolah
bersama Lisa.
Di rumah,
aku membuka lemari pakaian di kamarku. Di dalam lemari, aku menemukan kotak
kayu yang sangat usang. Aku membuka kotak kayu itu. Ternyata, isi kotak kayu
itu adalah fotoku dengan Lisa saat kecil. Aku tersadar, Lisa adalah teman
kecilku.
Keesokan
harinya, Lisa membuatkanku sebuah kalung persahabatan. Kalung itu diberikan padaku.
Kalung itu hanyalah kalung sederhana, tetapi sangat berarti. Di dalam kalung
itu ada fotoku dengan Lisa saat kecil.

Hari
berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Aku sudah berumur tujuh
belas tahun. Aku teringat saat ku kecil. Aku bergegas ke kamar dan mengambil
kotak kayu. Aku menamakannya kotak dengan kenangan kecil, berarti besar.
Kuambil kalung persahabatan yang diberikan Lisa. Aku memakainya dengan hati
gembira.
Keesokan
harinya aku mendapat kabar buruk tentang Lisa. Ternyata Lisa masuk rumah sakit.
Lisa masuk rumah sakit karena sakit kanker. Aku bergegas pergi ke rumah sakit
untuk menjenguk Lisa.
Saat aku
masuk ke rumah sakit, dokter sedang memeriksa Lisa. Kata Dokter, penyakit Lisa
sangat parah, karena kanker yang berada di dalam tubuh Lisa “Stadium Empat.”
Aku
menemui Lisa yang terbaring lemas di atas tempat tidur di rumah sakit. Aku
berkata, sahabat sejati akan selalu bersama. Aku pergi meninggalkan Lisa dengan
mata berkaca – kaca.
Keesokan
harinya aku kembali menjenguk Lisa. Tiba – tiba Dokter mendekatiku dan berkata
“Menurut medis, hidup Lisa tidak akan lama.” Aku menangis di depan pintu kamar Lisa
di rumah sakit sambil berkata “Hidup mati seseorang hanya Tuhan yang
menentukan.”
Akhirnya
orang tua Lisa memutuskan untuk mengobati dengan terapi. Kata Dokter terapinya
harus secepatnya dilakukan. Terapi ini biasanya dilakukan minimal dua tahun. Dalam
hati aku berkata, “Aku akan selalu mendoakanmu, Lisa.”
Dua tahun
kemudian,Lisa akhirnya sembuh dari penyakitnya. Aku menjemput Lisa di rumah
sakit, karena Lisa sudah diperbolehkan pulang. Aku langsung memeluk Lisa sambil
berkata “Sahabat sejati akan selalu bersama selamanya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar