4/11/2012

Persabatan -cerpen


By: dinda A
Mentari telah menampakkan diri. Aku menyambut pagi dengan ceria. Menghirup udara segar. Aku bergegas pergi ke sekolah. Aku tidak pergi sendiri ke sekolah, aku pergi bersama temanku, Lisa.
Setelah sampai di sekolah, aku mendengar pengumuman bahwa besok libur tiga hari karena ada Try Out. Waktu pelajaran telah berakhir. Aku bergegas meninggalkan sekolah bersama Lisa.
Di rumah, aku membuka lemari pakaian di kamarku. Di dalam lemari, aku menemukan kotak kayu yang sangat usang. Aku membuka kotak kayu itu. Ternyata, isi kotak kayu itu adalah fotoku dengan Lisa saat kecil. Aku tersadar, Lisa adalah teman kecilku.
Keesokan harinya, Lisa membuatkanku sebuah kalung persahabatan. Kalung itu diberikan padaku. Kalung itu hanyalah kalung sederhana, tetapi sangat berarti. Di dalam kalung itu ada fotoku dengan Lisa saat kecil.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Aku sudah berumur tujuh belas tahun. Aku teringat saat ku kecil. Aku bergegas ke kamar dan mengambil kotak kayu. Aku menamakannya kotak dengan kenangan kecil, berarti besar. Kuambil kalung persahabatan yang diberikan Lisa. Aku memakainya dengan hati gembira.
Keesokan harinya aku mendapat kabar buruk tentang Lisa. Ternyata Lisa masuk rumah sakit. Lisa masuk rumah sakit karena sakit kanker. Aku bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Lisa.
Saat aku masuk ke rumah sakit, dokter sedang memeriksa Lisa. Kata Dokter, penyakit Lisa sangat parah, karena kanker yang berada di dalam tubuh Lisa “Stadium Empat.”
Aku menemui Lisa yang terbaring lemas di atas tempat tidur di rumah sakit. Aku berkata, sahabat sejati akan selalu bersama. Aku pergi meninggalkan Lisa dengan mata berkaca – kaca.
Keesokan harinya aku kembali menjenguk Lisa. Tiba – tiba Dokter mendekatiku dan berkata “Menurut medis, hidup Lisa tidak akan lama.” Aku menangis di depan pintu kamar Lisa di rumah sakit sambil berkata “Hidup mati seseorang hanya Tuhan yang menentukan.”
Akhirnya orang tua Lisa memutuskan untuk mengobati dengan terapi. Kata Dokter terapinya harus secepatnya dilakukan. Terapi ini biasanya dilakukan minimal dua tahun. Dalam hati aku berkata, “Aku akan selalu mendoakanmu, Lisa.”
Dua tahun kemudian,Lisa akhirnya sembuh dari penyakitnya. Aku menjemput Lisa di rumah sakit, karena Lisa sudah diperbolehkan pulang. Aku langsung memeluk Lisa sambil berkata “Sahabat sejati akan selalu bersama selamanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar