Namaku
Sherrly, pagi ini terasa indah, mentari pagi menyambutku dan sahabat kecilku
dengan sinar yang membuat hariku terasa lebih bersemangat. Aku menggandeng
sahabatku yang bernama Syifa, untuk berangkat ke sekolah.
Syifa adalah sahabatku sejak TK. Dia sangat baik
hati dan cantik, dia selalu tersenyum , karena dia anak yang sangat ceria.
Sejak TK hingga SMP, aku selalu berangkat sekolah bersama, kebetulan rumahku
dengannya tidak terlalu jauh. Biasanya dia menjemputku di depan rumah dan
biasanya aku berjalan kaki.
Aku bersekolah di SMPN 1 Pahlawan
Bangsa. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah. Aku senang dan nyaman
bersekolah di sana.Aku duduk di bangku kelas VII SMP, sama seperti Syifa
sahabatku , namun aku dan dia berbeda kelas. Aku sering ke kantin bersama
dengannya.
Aku dan dia memiliki kesamaan yang sama
yaitu, jika ke kantin aku dan dia sangat suka membeli nasi goreng dengan di
tambah 1 butir telur yang dimasak setengah matang. Aku dan dia juga sangat suka
membeli es teh manis.
Walaupun aku dan Syifa sangat senang
bermain bersama, namun aku juga tidak pilih-pilih teman, aku juga senang
bermain dengan yang lain. Syifa itu anaknya sangat jahil dan ceria, walaupun
dia jahil justru malah itu yang aku suka darinya.
Sebulan kemudian sekolah mengadakan
study tour ke Bandung aku sangat senang sekali. dan 5 hari sebelum tour aku
bertanya pada Syifa. “Syif, 5 hari lagi kitakan study tour,kamu pasti ikut
kan?” tanyaku. “Pasti dong Sher, tapi
insyaallah ya aku tidak janji looh, kamu juga ikut kan?” jawab Syifa sambil
tersenyum. “Ya, pasti dong..!” jawab Sherrly dengan semangat.
Sehari sebelum tour aku sempatkan untuk
datang ke rumah Syifa, karena aku ingin mengajaknya pergi ke sebuah mini market
untuk membeli makanan-makanan ringan dan ingin membeli perlengkapan yang
diperintahkan oleh wali kelas kami.
Akupun langsung menuju rumahnya. Rumah
dengan model minimalis itu terlihat sangat sepi. Perlahan aku menekan bel yang
berada di depan pintu, tetapi tak ada orang rumahnya yang membukakan pintu
untukku. Ku coba lagi dengan mengetuk pintu rumahnya, tidak beberapa lama
seorang nenek tua membukakan pintu untukku.
Aku terkejut, karena sebelumnya aku
belum pernah melihat nenek tua tersebut. Perlahan ku coba berbicara kepada
beliau. “Assalamu’alaikum nek, saya Sherrly sahabat dari Syifa, Syifanya ada di
rumah tidak?” tanya Sherrly gugup. “Begini nak, kemarin malam Syifa masuk rumah
sakit , karena ia pingsan di kamar tidurnya.” jawab nenek tersebut. “Innalillahi, kasihan sekali dia , kalau boleh
tau nenek ini siapa ? neneknya Syifa ya?” Sherrly menjawab dengan wajah sedih. “Iya,kemarin
nenek langsung kesini karena khawatir dan takut terjadi apa-apa.” jawab nenek
tersebut. “Ohhh, begitu nek, kalau boleh
tau di Rumah Sakit mana dan dikamar no. berapa ?”tanya Sherrly. “di Rumah Sakit
Harapan Keluarga, dikamar no. 203 di lantai 2”. Jawabnya. “Terimakasih ya nek,
atas informasinya saya ingin menjenguk Syifa dahulu,Assalamu’alaikum.” sambung Sherrly. “Wa’alaikumsalam” jawab nenek
tersebut.
Dengan segera ku menuju rumah untuk
diantar oleh orangtuaku ke rumah sakit tersebut,karena rumah sakit tersebut cukup
jauh,tidak bisa ditempuh dengan berjalan
kaki. Sepanjang perjalanan hatiku sangat gundah, aku memiliki firasat yang tidak
enak dengan keadaan Syifa. Tapi aku terus berdoa.
Sesampainya di sana aku berlari-lari
dengan keadaan yang sangat cemas. Akhirnya aku menemukan kamarnya. di luar
ruangan orang tua Syifa sedang duduk dengan keadaan cemas sambil memanjatkan
doa. Lalu ku coba mendekat dan bertanya. “Tante, bagaimana keadaan Syifa,dia
sakit apa? tanya Sherrly. “Keadaanya keritis dia mengidap penyakit kanker
otak.” jawab Mamah Syifa. dengan air mata yang menetes di pipi ,aku menjawab, “
Tante serius? Ya Allah padahal sebelumnya ia terlihat sehat dan tidak ada
tanda-tanda yang menunjukkan ia memiliki penyakit tersebut!”. ” Tante juga
tidak percaya, karena sebelumnya Syifa sangat terlihat sehat, mungkin dia
keturunan dari kakeknya, tante sangat sedih, tante tidak bisa melihat dia
menangis karena dia anak yang sangat ceria.” jelas mamah Syifa.
Lalu ku meminta izin untuk masuk ke dalam kamar
rawatnya, ku pegang tangannya yang halus, ku terus panjatkan doa untuk
kesembuhannya. Aku ingin melihatnya tersenyum kembali, bermain bersamaku
kembali. Banyak kejadian yang tak bisa kulupakan dengannya.
Dia adalah sosok yang sangat
dermawan,sabar,dia selalu mengerti saat aku sedang marah,pasti dia selalu
menenangkan ku dengan senyuman dan nasihat-nasihat bijaksananya yang membuatku
lebih mengerti arti hidup dan membuat hatiku tenang. Walaupun dia sosok yang
jahil tapi sebenarnya dia sosok yang bijaksana. Dia selalu membuat hidupku
terasa lebih sempurna dan dia juga yang membuat sikapku menjadi lebih baik.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk
tidak mengikuti study tour, karena ku tak ingin aku berbahagia , sementara
Syifa sedang terbaring lemas di rumah sakit. Lagi pula kebahagiaanku tidak akan
terasa sempurna tanpa kehadiran Syifa.
Jam menunjukkan pukul 08:00 pagi,
seharusnya sekarang aku sedang berangkat study tour, namun aku lebih memilih
menjaga Syifa di rumah sakit, lagi pula orangtuanya sedang capek ,sejak kemarin
menjaga Syifa jadi belum sempat istirahat.
Saat aku menjaganya tangannya merespond
dan aku segera memanggil orangtuanya dan dokter. Tiba – tiba dia mencoba
berkata dan tersenyum saat melihatku. “Sher,aaa..ku..
saya..nk.. kamu.. ingat aaa..ku ingaa..t akuu..” ucap Syifa dengan
terbata-bata. “Pasti Fa, aku juga sangat
sayang denganmu, tolong jangan tinggalkan aku!” jawabku dengan perasaan haru
dan sedih. Tidak beberapa lama keadaanya semakin memburuk dan dokter menyatakan
dia telah tiada. dan saat itu adalah senyuman terakhir yang ku lihat dari bibir
manisnya , aku sangat sedih dan merasa kehilangan
sahabat yang sejak kecil ku kenal, Namun aku harus mengikhlaskan semua yang
telah tiada, aku berdoa semoga seluruh amal ibadahnya di terima di sisi Tuhan
YME dan keluarganya diberikan kesabaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar