4/11/2012

Demi Sahabat

by: Natalia P


Namaku Vreyna Queenia . Hmm.. kalian bisa panggil aku Nia. Aku punya  dua sahabat. Dia bernama Nicholas Wahyudi Junarta. Aku biasa memanggilnya Yudi. Dan yang satu peremuan, namanya Yuna Anjasmara. Aku  biasa memanggilnya Ara. Kami bertiga berteman sejak kecil. Dan juga orang tuaku adalah sahabat orang tua Ara dan Yudi. Rumah kami bertiga satu RT ( Rukun Tetangga ). Dan sekolah kami pun dari dulu sampai sekarang sama . Kalau berangkat sekolah kami selalu bersama. Kalau tugas kelompok, kami pun selalu  bertiga. Dulu kami juga sering bermain ke pantai. Pantai itu adalah tempat kesukaan kami bertiga. Sampai sampai ada temanku yang mengejek kami kembar siam, karena kami selalu bersama sama kemanapun kami pergi. Yang menghibur aku ketika kesepian adalah Ara dan Yudi. Ketika aku kesusahan , merekapun yang membantu aku. Pokoknya mereka sahabat terbaik yang aku punya. Aku sangat tidak mau kehilangan mereka berdua.
Sekarang kami sudah kelas 1 SMA atau kelas 10. Kami mulai beranjak dewasa. Kami bertiga satu sekolah. Kami bersekolah di SMA Sedes Sapiens.Sekarang aku sudah menyukai laki – laki. Ingin tahu ? dialah Yudi, laki laki yang aku suka sejak kami  kelas 4 SD. Itu artinya aku menyukai dia sudah sekitar 6 tahun. Tetapi aku tidak berani berbicara kepada dia bahwa aku menyukai dirinya. Sebab aku juga tahu, Ara pun juga menyukai Yudi. Aku tidak ingin melukai perasaan Ara. Aku pun tidak ingin kehilangan Ara hanya karena seorang laki laki. Tapi, aku penasaran juga si Yudi menyukai siapa. Hmm apa mungkin di antara aku dan Ara ? Sepertinya tidak. Setiap di tanya pasti Yudi hanya berkata pasti kamu tahu orangnya, dia dekat sekali denganku. Aku sudah kegeeran sendiri dengan jawabannya itu. Suatu hari, Ara tidak masuk sekolah karena sakit. Jadi, hanya aku berdua saja dengan Yudi. Tiba- tiba Yudi berhenti di depan Kafe. Lalu, aku bertanya, “ Yud, ngapain kita kesini ? “ Tapi, Yudi hanya menjawab, “ Ada deh.. Liat nanti saja. “ “Kok aku jadi gugup begini ya ?”, pikirku dalam hati. Dag dig dug.. Lalu, Yudi memesan tempat untuk berdua. Dan tiba- tiba juga, Yudi berkata, “ Ni, sebenarnya aku suka sama kamu , kamu mau nggak jadi pacar aku ? “ Ternyata , Yudi menyatakan cintanya padaku. “Ya Tuhan.. apakah harus ku terima ? Dan aku harus melukai perasaan Ara ? Tidak. Aku harus menolak Yudi, aku tidak ingin melihat sahabatku sedih.”, pikirku dalam hati. Akhirnya ku tolaklah Yudi itu. “ Maaf Yud, untuk kali ini aku nggak bisa nerima kamu, tapi bukannya aku nggak suka sama kamu, tapi aku tidak ingin mengecewakan Ara, Yud. Karena harus kau ketahui juga Ara suka padamu Yud”, kataku.  Ucap Yudi, “ Iya, aku ngerti kok, Ni. “ Sebenarnya aku sangat berat hati untuk menolak Yudi tapi apa boleh buat sahabat lebih penting daripada pacar.
Tiba – tiba handphoneku berbunyi kring.. kring.. Ku angkatlah handphone ku . Ternyata mama ku yang menelfon aku. “ Yud, sebentar ya aku angkat telfon dulu. “ , ucapku. Jawab Yudi, “ Iya . “ Ternyata mamaku menyuruhku pulang karena ada masalah. Lalu, Yudi mengantarku sampai rumah dengan menggunakan motornya. Firasatku sangat tidak enak. “Ada apa ini Tuhan ?”, pikirku. “ Yud, kamu merasa ada yang tidak enak nggak ? “ , kataku. Jawab Yudi, “ Iya sih, Ni. Ada apa ya ini ? “ Jawabku, “ Semoga nggak ada apa apa deh ya, Yud .“ Ucap Yudi, “ Amin “.
Setiba sampai di rumah, mamaku memberitahu bahwa Ara terkena penyakit kanker otak tidak bisa di sembuhkan. Aku dan Yudi sangat lah sedih. Kami tidak ingin kehilangan satu sahabat. “Secepat itukah Ara meninggalkanku ? “, isakku. “ Sabar Ni, sabar, aku juga merasakan yang kamu rasakan, Ni. Mending sekarang kita ke rumah sakit saja yuk.”, ajak Yudi. “Iya Yud.”, jawabku sambil terisak – isak. Sesampainya di rumah sakit ternyata aku telat. Tepat pukul 14.35 Ara sudah di panggil kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. “Ya Tuhan... Mengapa kau mengambil Ara ! “, kataku sambil berteriak. Aku juga melihat tante Lasma ( mama Ara ) menangis. “Tuhan, mengapa kau mengambil anakku. Setelah kau mengambil suamiku. Aku sekarang tidak punya siapa siapa lagi. “teriak tante Lasma. “Lasma, cobaan memang berat, tapi kau harus menerimanya itu. Aku juga mengerti perasaanmu Lasma. Lagipula kau masih punya kami. Sahabatmu dari kecil. Bahkan kau sudah ku anggap sebagai saudaraku.” hibur mamaku. “Terima kasih ya Rena ( mamaku ) kau memang sahabatku yang paling baik.” jawab tante Lasma sambil berpelukan dengan mamaku. Pukul 15.45 , kami semua pergi ke pemakaman. Aku sangat sedih dan tidak lupa aku juga mengucapkan selamat tinggal pada Ara. “Selamat tinggal Ara, semoga kamu bahagia di atas sana. “, ucapku sambil menangis. “ Oh ya .. kemari Yudi dan Nia.”, panggil tante Lasma. “ Iya tante. “, jawabku berbarengan dengan Yudi. “Nia, tadi Ara sempat memberi tante surat ini . Tolong di baca ya.”kata tante Lasma. “Iya tante.”, jawabku. Aku membaca surat itu dan isinya :
        Nia, aku tahu kau menyukai Yudi. Begitu pun aku, aku juga menyukai Yudi. Aku juga tahu mengapa kau menolak Yudi. Pasti karena aku kan ? Aku tahu itu. Tapi sekarang aku sudah tidak ada lagi, Ni. Aku sudah pergi ke tempat yang sangat jauh darimu dan Yudi. Aku hanya ingin bilang kalau aku rela kau bersama Yudi. Tolong jaga Yudi baik baik ya, Ni. Buatlah aku senang Ni di atas sana. Terima kasih ya, Ni. Aku akan selalu menyayangi kalian berdua.
        Setelah membaca surat dari Ara itu, tak terasa air mataku jatuh kembali. Aku pun menangis. Aku tidak percaya kalau Ara menerima kalau aku bersama Yudi. “Aku berjanji akan selalu menjaga Yudi dan menyayangi Yudi seperti kamu menyayangi Yudi, Ra.”

---------------------------------TAMAT---------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar