4/11/2012

Kesalahpahaman yang fatal


by: Tri A
Aku dan Fika sudah bersahabat sangat lama sekali, mengisi kehampaan didalam hati. Sedih senang dia yang selalu ada disisiku, sekian lama aku bersamanya aku merasa kasih sayang seorang sahabat entah sampai kapan persahabatan berakhir tapi aku tidak ingin persahabatanku dengannya berakhir.
-Sekolah-
Siska        :’’ na,na,na..’’
Fika  :’’ Cie, Siska seneng banget sih! Ada apa sih?’’ tanyanya terhadapku
Siska:’’ Papaku mengajakku liburan ke Bali, kamu ikut ya?’’ ajakku
Fika  :’’ ah, engga. Aku lagi tidak enak badan! Siska, siska..’’ jawabnya menolak dan ia memanggilku dengan gugup
Siska        :’’ Apaan? Pagi-pagi udah gugup aja.’’
Fika  :’’ ada anak baru , nanti dia akan sekelas sama kita! Cowok lho..’’
Siska        :’’ Siapa? Aku tidak memperdulikannya!’’
Fika  :’’ gak peduli sih gak peduli ! naksir aja nanti, haha’’ ledeknya sambil tertawa
Kring.. kring
-Bel berbunyi-
        Bel pun menunjukan sudah waktu sudah waktu masuk belajar, guru tiba dengan seorang cowok! Tetapi ia terasa sangat asing sekali , aku belum pernah melihat dirinya. Siapakah gerangan?
Bu Nuri:’’ Murid-murid, kita punya siswa baru! Silahkan memperkenalkan namamu.’’
Siswa baru:’’ Selamat pagi, nama saya Raditya Stevano. Saya pindahan dari sekolah SMAN 08 Bandung, harap kebijakan dari kalian’’
Setelah memperkenalkan dirinya, pelajaran dimulai. Aku sedikit terganggu dengan mukanya , cowok yang tampan duduk disebalahku. sesekali bertatap mata dengannya terasa jantung ini sudah berdegup sangat kencang.
Raditya:’’ Raditya..’’ dia mengulurkan tangannya padaku
Siska:’’ Siska’’ aku tersenyum padanya
        Di dalam hatiku bertanya-tanya, apakah aku suka dirinya? Ah tidak mungkin, Dia sangat tampan banyak siswa yang menyukainya aku tidak mungkin salah satu dari mereka. Setelah waktu istirahat aku mencari dirinya ternyata ia sedang duduk memakan bakso di kantin.
Siska:’’ hei, ganggu?’’
Raditya:’’hei, tidak kok. Mau makan bakso?’’
Siska:’’ emm, boleh deh. Aku juga lapar’’ jawabku tertawa
Fika  :’’ Ciee, yang baru kenal udah makan bakso berdua aja nih!’’ ledeknya tertawa
Siska        :’’ Fika , apaan sih. haha’’
        Kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak, setiba ku dirumah aku terus memikirkannya. 5 bulan berlalu dengan candaan-candaan kami , eitss kami bukan hanya aku dan Fika tetapi dengan Raditya, hubungan kami pun semakin dekat dan Fika sudah mengetahui kalau aku menyukainya.
                                        Handphone bergetar
        Sebuah pesan text masuk dihandphone-ku bertuliskan ‘’Caffe jam 15.30 dari-raditya’’ aku langsung berangkat ke Caffe tersebut. Aku mempercepat langkahku, akhirnya aku menemukan dirinya di meja nomor 23 sedang duduk dengan secangkir cappucino.
Siska:’’ Hei, ada apa?’’
Raditya:’’ Mau capuccino?’’
Siska:’’ hemmh’’ jawab-ku mengangguk
Raditya:’’ Siska, aku suka sama kamu.kamu mau jadi pacarku?’’
Siska:’’ Haha..’’ aku tertawa karena candaannya
Raditya:’’ Kali ini aku serius Siska’’ serunya menghentikan tawa-ku
Siska:’’ yaudah iya, aku juga suka sama kamu ‘’ aku tersenyum padanya
Raditya:’’ Jadi? ‘’
Siska:’’ Menurut kamu?’’ tanyaku balik
Raditya:’’ Yess, yeay! ‘’ teriaknya hingga semua orang melihatnya
Siska:’’ heh, udah. Di liatin semua orang’’ ledek-ku
-Di rumah-
        ‘’Aku jadian? Ah, kenapa aku langsung menerimanya!!’ teriakku didalam kamar.
-Di sekolah-
Fika  :’’ Hah? Jadian? Selamat ya..’’ jawabnya lemas
Siska:’’ Kenapa Fika? Kok melemas gitu, sakit ya?’’
Fika  :’’ Oh,Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja’’ jawabnya meyakinkanku
        2bulan aku bersama raditya tetapi dimana Fika? Kemana dia? Aku sangat khuwatir terhadapnya. Sampai suatu saat aku melihat Fika dengan Raditya sedang berbicara secara pribadi. Ada hubungan apa mereka? Mengapa dia tega kepadaku? Aku sudah bersahabat sangat lama dengan Fika tetapi mengapa dia seperti itu terhadapku. Aku hanya pergi dengan sangat lemas dan marah.
-Sekolah-
Raditya:’’ Heh! Bengong aja..’’ ucapnya mencubit pipiku
Siska:’’ Jujur ya, kemarin kemana? Diam-diam ada hubungan sama Fika!’’ seruku menyapu padanganku terhadapnya
Raditya:’’ Dengarkan dulu! Kemarin itu hanya..’’
Siska:’’ Tidak butuh! Kemana Fika? Apakah dia mengindar dariku? ‘’
        Aku menelpon Fika yang telah diam-diam mempunyai hubungan dengan Raditya..
                                        Siska menelpon Fika
Siska:’’ Heh, aku sekarang tau! Ternyata kamu diam-diam menusuku! Kamu mempunyai hubungan dengan raditya , cukup tau dan tidak mau tau lagi. Perhabatan kita putus!
Fika  :’’ Siska kamu salahpaham...’’ aku mematikan telpon-ku
        1bulan berlalu tanpa Fika, ternyata wali kelas kami memberitahu kami bahwa Fika meninggal.. ‘’Hah? Apa? Apakah semua ini salah ku?‘’ Seruku dalam hati
Raditya:’’ kamu mau tahu apa yang aku bicarakan sebulan yang lalu aku bersama Fika?’’ tanyanya, dan aku mengangguk
Raditya:’’ dia menyuruhku untuk menjaga kamu , tidak membuatmu menangis, tidak membuatmu kecawa, membahagiakan kamu, untuk menggantikan diri Fika sebagai sahabatmu yang tak lama lagi Tiada. Dia mempunyai penyakit Leukimia’’ aku menangis mendengar perkataan raditya, mengapa aku terlalu egois dan tidak mendengar penjelasan dari Fika?
        Leukimia.. Leukimia.. perkataan itu masih terdengung di telingaku. Aku hanya berdiam seperti patung , dan menyesali apa yang telah aku lakukan kepada Fika. Jam pelajaran berakhir, aku mempercepat langkahku kerumah Fika. Rumah dipenuhi banyak bunga dan bendera kuning. Aku terjatuh menangis didepan rumahnya , tangisanku semakin keras. Raditya melihatku sedang menangis dan menyuruhku berdiri. Aku memasuki rumah Fika dan Bi Retno memberi-ku pesan text untukku dari Fika “Hidup bahagia disana, makasih udah jadi sahabatku selama ini. Aku mungkin disana sangat tenang, I love you dear.’’ Tetesan air mati semakin deras mengalir hanya bisa menyesali semuanya.
        Aku sekarang hidup tanpa Fika dan aku mencoba yang terbaik. jika ada kesalahpahaman, aku mencoba untuk mendengarkannya. Itu semua pelajaran untukku, sekarang aku hidup berbahagia dengan raditya tanpa Fika walau sedikit sedih tanpanya tetapi Fika akan selalu ada dihatiku yang akan menjadi sahabat terindah seumur hidupku..
                                -THE END-

Hancurnya persahabatan

by: Sri Y.H

Salam kenal namaku Nayla Permata. Panggil saja Nayla. Aku sekarang duduk di kelas 3 SD. Aku menyukai seekor kelinci. Langsung saja kubuka ceritaku.........                                                                                                                                                                     pagi ini adalah pagi yang sangat indah. Banyak kudengar suara burung yang berkicau merdu dan mataharipun tampak lebih cerah dibandingkan hari sebelumnya.                                                           Aku memang anak yang sedikit susah untuk bangun lebih pagi. Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi.                                 Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan langsung mandi. Karena hari ini hari senin dan aku kebagian tugas upacara untuk membacakan UUD 45.                                                                       Setelah selesai mandi aku sedang berkaca di kamarku tiba-tiba mama masuk ke dalam kamarku dengan muka yang sedikit muram....
Nayla  :” mama kenapa?”
          “kenapa muka mama muram,nanti cepet tua loh....?”
           (becanda ku agar mama tersenyum)
Mama  :” Hem.....”(mama pun tersenyum kepadaku)
“mama tidak apa-apa nak,mama hanya ingin memberi tahukan     bahwa saat kamu naik-naikan kelasa nanti kita semua akan pindah dan tinggal di jakarta.”
Nayla  :”apa ?” (bentakku kaget dan sambil meneteskan air mata)
Mama  :”kamu kenapa ?”
          “kamu tidak keberatan kan ?”
Nayla  :”nge......nggak ma,Nayla tidak kebertan. Tapi Nayla hanya sedih    untuk meninggalkan kota ini,kota kelahiran Nayla.”
Mama  :”iya,mama juga tahu. Mama juga tidak ingin meninggalkan kota            ini tapi mau bagaimana lagi,kita harus ikut pindah bersama                  papa. Sudahlah nanti kita bicarakan lagi,sekarang kita turun          untuk sarapan bersama papa dan kak riko.”
Nayla  :”ya ma,nanti aku turun mama duluan aja.”
Mama  :”ya”(jawab mama dengan singkat)
        Setelah mama turun,aku jadi merasa sangat sedih. Karena aku akan berpisah dengan teman dan sahabatku,dan mungkin itu akan sangat menyedihkan buatku.                                                    Setelah berberapa menit aku melamun,tiba tiba kak riko mengetuk pintuku “tok....tok....tok...” dan menyuruhku untuk segera turun.
Kak riko  :”Nayla,kamu disuruh mama dan papa segera untuk turun                     tuh!!!”! ( ‘-‘ )
Nayla  :”iya,sekarang aku turun.”
        Sesaat aku tiba di meja makan,papa agak sedikit aneh melihatku.
Papa  :”kamu kenapa Nayla?”
Nayla  :”enggak pa,Nayla nggk apa-apa.”
Papa  :”lalu kenapa rotinya tidak di makan?”
Nayla  :”Nayla.....tidak nafsu untuk makan pa. Yaudah sekarang kita               berangkat sekarang soalnya hari ini aku kebagian menjadi              petugas upacara dan membacakan UUD 45.”
Papa  :” yaudah kalu gitu kita berangkat.”
Nayla  :”mama,kak Riko Nayla berangkat ya?” (sambil mencium tangan   mama dan kak Riko)
Mama  :”ya hati-hati ya di jalan.”
Nayla  :assalamualaikum.”
Mama dan kak Riko  :”waalaikumsalam.”
        Saat aku dan papa sedang di perjalan aku melihat Adam,Rasti,Rey,dan Umi sedang berjalan untuk berangkat sekolah dan aku pun mengajak mereka untuk berangkat bareng denganku......
Nayla  :” hai semua !!!!!”
          “mau nggak kalian berangkat bareng denganku?”
Adam  :” boleh.....boleh.....itung-itung irit energi. Hahaha ( “-” )”
(Rasti,Rey,Umi pun tertawa sambil melirik kearah Adam)
Nayla  :” yaudah ayo sekarang masuk takut terlambat nih!!!!!!!!!”
        Tanpa kami sadari,kami sudah tiba di sekolah dan teman-teman kami pun sudah pada baris dilapangan,aku pun langsung masuk kebarisanku. Tiba-tiba Ria menatapku dengan sedikit aneh......
Ria  :”mimpi apa semalam Nayla bisa datang terlambata???” (._.)
Nayla  :”Hem....(akupun tersenyum sambil menundukan kepalaku)
          “nanti aja deh aku ceritain mendingan sekarang kita konsen                  sama tanggungan kita sebagai petugas upacara.”
Ria  :”ya”..... (jawab Ria dengan singkat)
        Upacarapun akhirnya selesai dan kami pun masuk ke kelas. Tiba-tiba ada sebuah pengumuman,bahwa pengambilan raport akan dilaksanakan minggu ini.                                                                   Sesaat setelah mendengarkan pengumuman itu aku pun langsung lari tergesa-gesa kekamar mandi sambil meneteskan air mataku. Tiba-tiba Umi menyusul ku dan menanyakan keadaanku.
Umi  :”kamu kenapa Nayla???”
        “tiba-tiba kamu kabur begitu saja.” Apa kamu sakit???”
(tanya Umi yang kelihatanya sedikit cemas dengan keadaanku)
Nayla  :”aku tidak apa-apa.”(dengan memeluk umi sahabat ku dan sambil berkata “aku tidak ingin  kehilanganmu”
Umi  :”qo.....aku jadi bingung ya!!!!” ‘-^
Dan akhirnya Nayla pun menceritakan semuanya. Ternyata tanpa di sangka pada saat ku menceritakan tentang diriku,umipun menangngis hingga terisak-isak. Dan setelah kami berdua selesai bercerita kami langsung mencuci muka dan kembali kekelas.tanpa kami sadari bahwa ternyata bel istirahat sudah tiba.                                           Kami hari ini pulang memang agak cepat karena kami sudah selesai UAS. Dan kamipun langsung pulang kerumah masing-masing. 3 hari pun telah berlalu pada saat pengambilan raport tepatnya pada hari jumat aku dan teman-temanku sangat khawatir dengan pengumuman kejuaraan kelas dan akhirnya aku pun mendapatkan juara 3 dikelas ku. Namun kebahagiaanku akan berakhir hanya sampai disini karena pada saat hari minggu nanti aku akan berangkat ke jakarta dan meninggalkan kota ini untuk slama-lamanya.                 Setelah usai pengambilan raport aku langsung masuk ke mobil dan aku menyuruh papa untuk memberikan surat kepada Adam,Rasti,Rey,Umi dan Ria. Dan tidak lupa aku menyuruh papa untuk memberikan kenang-kenanganya yang sudah ku siapkan untuk mereka yaitu sebuah buku yang bersampul foto kami dan meminta nomor telfon mereka.                                                                              Saat jadwal keberangkatanku pun tiba dan ternyata badan ku agak sedikit demam mungkin karena aku sedikit depresi.( ‘-‘ ) Tapi mama dan papa tidak mengetahiu tentang diriku.setelah beberapa jam aku berada di atas pesawat akhirnya kamu pun telah tiba di jakarta.papa pun langsung memberi tahu bude ku yang berada di batam. dan setelah beberapa minggu aku tinggal di jakarta aku kangsung di masukan kesekolahan SD ya...... yang menurutku beda jauh banget dengan sekolahanku yang dulu.                                    Hari pertamakupun telah tiba aku duduk dikelas 3 SD akupun memperkenalkan namaku. Jadi jarang aku bermain dengan teman-teman sekelasku.                                                                          4 tahun pun telah ku jalni hidup dijakarta tapi ternyata hasilnya tidak ada yang berubah sama sekali. Dan sekarang akupun berniat untuk bisa berubah menjadi  anak yang bisa patuh dan berbakti kepada orang tua. Sekarang aku duduk dibangku smp kelas 7 SMP dan masa-masa di sinilah aku bisa merasakan kesihan,kegembiraan,kegagalan yang pernah ku alami.   Dan setelah hamper 1 tahun aku duduk dibangku SMP kelas 7,sebentar lagi aku akan naik kekelas 8. Dan saat aku kelas 8 nanti aku ingin tidak satu kelas dengan teman-teman pada saat aku kelas 8 ini. Tiba-tiba handpone aku berbunyi kring………kring…………kring…………(“aduh siapa sih yang menelfone ku mengganggu saja”) kataku.
Nayla  :”hallo,assalmualaikum!!!!”
        “maaf ini dengan siapa ya?????”
Rey  :” hallo juga.”  Ini aku Rey,Nayla gimana kabar kamu????”
Nayla  :”oh Rey,keadaanku baik-baik saja.”
        Setelah beberapa menit aku bercakap-cakap denganya tanpaku sadari Rey pun mengutarakan isi hatinya kepada ku.dan di situ juga aku merasa sangat kaget,sebab……… aku belum pernah pacaran sebelumnya  -_-                                                                         Aku pun mersa sangat malu dan hanya bisa menjawab dengan suara kecil” iya,aku mau jadi pacar kamu” dan mungkin ini baru saja terjadi 1 kali dalam hidupku wajar saja kalau aku sedikit malu-malu.   Sesaat saja aku baru menggeletakan handpone ku tiba-tiba ada seseorang yang menelfone ku ternyata itu Umi sahabat karibku.
Umi  :”hy….Nayla, gimana kabarmu????”
Nayla  :”hemm…… baik aja ko.
Setelah percakapan sekedar salam pembuka saja, aku menceritakan tentang kejadian tadi, dan tanpa ku sadari ternyata Umin langsung marah dan menutup telfonenya begitu saja.       Ternyata tanpa ku sadari Umi pun menyukai Rey. Aku benar-benar tidak  tahu. Dan aku pun menjelaskan kepada Umi bahwa aku tidak tahu bahwa dia menyukai Rey juga. Tapi aku harus bagaimana aku juga suka kepadanya. Yasudahlah akan kurelakan Rey menjadi milik sahabat ku. Aku ikhlas ,jika sahabatku bahagia aku pun akan merasakan kebahagiannya juga.tapi dia tidak mau mendengarkan penjelasan dari ku,malahan dia memutuskan persahabatan yang kami jalani selama hampir 6 tahun.               Dan sekarangpun tak ada lagi persahabatan antara kami.karena semua persahabatan kami hancur berantakan hanya karena cinta dan kesalah pahaman.

senyuman terakhir

by: sahirani A

images (1).jpgNamaku Sherrly, pagi ini terasa indah, mentari pagi menyambutku dan sahabat kecilku dengan sinar yang membuat hariku terasa lebih bersemangat. Aku menggandeng sahabatku yang bernama Syifa, untuk berangkat ke sekolah.


Syifa adalah sahabatku sejak TK. Dia sangat baik hati dan cantik, dia selalu tersenyum , karena dia anak yang sangat ceria. Sejak TK hingga SMP, aku selalu berangkat sekolah bersama, kebetulan rumahku dengannya tidak terlalu jauh. Biasanya dia menjemputku di depan rumah dan biasanya aku berjalan kaki.
        Aku bersekolah di SMPN 1 Pahlawan Bangsa. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah. Aku senang dan nyaman bersekolah di sana.Aku duduk di bangku kelas VII SMP, sama seperti Syifa sahabatku , namun aku dan dia berbeda kelas. Aku sering ke kantin bersama dengannya.
        Aku dan dia memiliki kesamaan yang sama yaitu, jika ke kantin aku dan dia sangat suka membeli nasi goreng dengan di tambah 1 butir telur yang dimasak setengah matang. Aku dan dia juga sangat suka membeli es teh manis.
        Walaupun aku dan Syifa sangat senang bermain bersama, namun aku juga tidak pilih-pilih teman, aku juga senang bermain dengan yang lain. Syifa itu anaknya sangat jahil dan ceria, walaupun dia jahil justru malah itu yang aku suka darinya.
        Sebulan kemudian sekolah mengadakan study tour ke Bandung aku sangat senang sekali. dan 5 hari sebelum tour aku bertanya pada Syifa. “Syif, 5 hari lagi kitakan study tour,kamu pasti ikut kan?” tanyaku.  “Pasti dong Sher, tapi insyaallah ya aku tidak janji looh, kamu juga ikut kan?” jawab Syifa sambil tersenyum. “Ya, pasti dong..!” jawab Sherrly dengan semangat.
        Sehari sebelum tour aku sempatkan untuk datang ke rumah Syifa, karena aku ingin mengajaknya pergi ke sebuah mini market untuk membeli makanan-makanan ringan dan ingin membeli perlengkapan yang diperintahkan oleh wali kelas kami.
        Akupun langsung menuju rumahnya. Rumah dengan model minimalis itu terlihat sangat sepi. Perlahan aku menekan bel yang berada di depan pintu, tetapi tak ada orang rumahnya yang membukakan pintu untukku. Ku coba lagi dengan mengetuk pintu rumahnya, tidak beberapa lama seorang nenek tua membukakan pintu untukku.
        Aku terkejut, karena sebelumnya aku belum pernah melihat nenek tua tersebut. Perlahan ku coba berbicara kepada beliau. “Assalamu’alaikum nek, saya Sherrly sahabat dari Syifa, Syifanya ada di rumah tidak?” tanya Sherrly gugup. “Begini nak, kemarin malam Syifa masuk rumah sakit , karena ia pingsan di kamar tidurnya.” jawab nenek tersebut.  “Innalillahi, kasihan sekali dia , kalau boleh tau nenek ini siapa ? neneknya Syifa ya?” Sherrly menjawab dengan wajah sedih. “Iya,kemarin nenek langsung kesini karena khawatir dan takut terjadi apa-apa.” jawab nenek tersebut.  “Ohhh, begitu nek, kalau boleh tau di Rumah Sakit mana dan dikamar no. berapa ?”tanya Sherrly. “di Rumah Sakit Harapan Keluarga, dikamar no. 203 di lantai 2”. Jawabnya. “Terimakasih ya nek, atas informasinya saya ingin menjenguk Syifa dahulu,Assalamu’alaikum.” sambung  Sherrly. “Wa’alaikumsalam” jawab nenek tersebut.
        Dengan segera ku menuju rumah untuk diantar oleh orangtuaku ke rumah sakit tersebut,karena rumah sakit tersebut cukup jauh,tidak bisa  ditempuh dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan hatiku sangat gundah, aku memiliki firasat yang tidak enak dengan keadaan Syifa. Tapi aku terus berdoa.
images (3).jpg        Sesampainya di sana aku berlari-lari dengan keadaan yang sangat cemas. Akhirnya aku menemukan kamarnya. di luar ruangan orang tua Syifa sedang duduk dengan keadaan cemas sambil memanjatkan doa. Lalu ku coba mendekat dan bertanya. “Tante, bagaimana keadaan Syifa,dia sakit apa? tanya Sherrly. “Keadaanya keritis dia mengidap penyakit kanker otak.” jawab Mamah Syifa. dengan air mata yang menetes di pipi ,aku menjawab, “ Tante serius? Ya Allah padahal sebelumnya ia terlihat sehat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan ia memiliki penyakit tersebut!”. ” Tante juga tidak percaya, karena sebelumnya Syifa sangat terlihat sehat, mungkin dia keturunan dari kakeknya, tante sangat sedih, tante tidak bisa melihat dia menangis karena dia anak yang sangat ceria.” jelas mamah Syifa.
       
Lalu ku meminta izin untuk masuk ke dalam kamar rawatnya, ku pegang tangannya yang halus, ku terus panjatkan doa untuk kesembuhannya. Aku ingin melihatnya tersenyum kembali, bermain bersamaku kembali. Banyak kejadian yang tak bisa kulupakan dengannya.
        Dia adalah sosok yang sangat dermawan,sabar,dia selalu mengerti saat aku sedang marah,pasti dia selalu menenangkan ku dengan senyuman dan nasihat-nasihat bijaksananya yang membuatku lebih mengerti arti hidup dan membuat hatiku tenang. Walaupun dia sosok yang jahil tapi sebenarnya dia sosok yang bijaksana. Dia selalu membuat hidupku terasa lebih sempurna dan dia juga yang membuat sikapku menjadi lebih baik.
        Keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak mengikuti study tour, karena ku tak ingin aku berbahagia , sementara Syifa sedang terbaring lemas di rumah sakit. Lagi pula kebahagiaanku tidak akan terasa sempurna tanpa kehadiran Syifa.
        Jam menunjukkan pukul 08:00 pagi, seharusnya sekarang aku sedang berangkat study tour, namun aku lebih memilih menjaga Syifa di rumah sakit, lagi pula orangtuanya sedang capek ,sejak kemarin menjaga Syifa jadi belum sempat istirahat.                             
images (2).jpg        Saat aku menjaganya tangannya merespond dan aku segera memanggil orangtuanya dan dokter. Tiba – tiba dia mencoba berkata dan tersenyum  saat melihatku. “Sher,aaa..ku.. saya..nk.. kamu.. ingat aaa..ku ingaa..t akuu..” ucap Syifa dengan terbata-bata.  “Pasti Fa, aku juga sangat sayang denganmu, tolong jangan tinggalkan aku!” jawabku dengan perasaan haru dan sedih. Tidak beberapa lama keadaanya semakin memburuk dan dokter menyatakan dia telah tiada. dan saat itu adalah senyuman terakhir yang ku lihat dari bibir manisnya  , aku sangat sedih dan merasa kehilangan sahabat yang sejak kecil ku kenal, Namun aku harus mengikhlaskan semua yang telah tiada, aku berdoa semoga seluruh amal ibadahnya di terima di sisi Tuhan YME dan keluarganya diberikan kesabaran.

Persaingan antara kita

by: Ryandika Y

Perkenalkan nama saya Dimas Choilil Putra, saya mempunyai sahabat bernama Angga. Ia adalah sahabat saya sejak kecil.  Angga adalah anak yang pintar, sejak TK sampai kelas 2 SMP sekarang ini ia telah menjuarai beberapa perlombaan, salah satunya adalah ia pernah menjuarai olimpiade matematika tingkat provinsi, boleh jadi banyak teman-teman yang bangga dan ada juga yang iri kepada-nya.
Aku dan Angga pun sering bersaing memperebutkan nilai tertinggi maupun peringkat 1, tetapi aku tetap saja kalah.  Pernah sewaktu aku kelas 7 (setara dengan kelas 1 SMP), aku bersaing dengan Angga untuk memperebutkan peringkat 1.
J-flash back kelas 7-J
“Dimas kamu mau kita bersaing memperebutkan juara 1 di kelas ?”.  Tanya Angga.
“Oke!, siapa takut”.  Jawab Dimas.
“Terus apa hukuman untuk yang kalah ?”.  Tanya Dimas.
“Gimana kalau hukumannya membersihkan kelas ?”.  Usul Angga
“mmm, gak apa-apa tuh hukumannya”.  Ujar Dimas, sambil mengacungkan jempol.
Setelah melalui ujian, dan pada saat pembagian raport ternyata , Angga yang mendapatkan peringkat ke-1 dan Dimas mendapatkan peringkat ke-2.  Angga menarik Dimas keluar kelas dan berkata
“sebagai hukuman, nanti sehabis pembagian raport kamu bersihkan kelas ya ?, oke!”.  Kata Angga.
“ya pak”.  Jawab Dimas sambil tertawa.
Kemudian mereka tertawa bersama.
J-Kembali ke cerita-J
Tetapi ternyata kelas kami berdua berbeda Angga 8.1, sedangkan aku (dimas) 8.6.  Walaupun kelas kami berbeda aku dan Angga semakin akrab.
-Dimas-
Saat aku di kantin, sedang asyik menyuap bakso aku di kagetkan oleh bidadari yang turun dari langit dan akupun terdiam, “Dim kenapa kamu ?”.  Tanya Angga.  “I..tu.. a…da… bidadari turun dari langit”.  Jawab aku, sambil berbicara agak gagap.  “Mana ?”.  Tanya Angga lagi, sambil mencari-cari bidadari yang di maksud oleh sahabatnya itu.  “Itu di deket tukang bakso”.  Jawab ku.  “Sudah gila kamu ya dim ?, pak muklis di sebut bidadari”.  Kata Angga sambil menampar pipiku, dan bakso terakhir ku lenyap sudah jatuh ke lantai.  “Aduh, hah pak muklis, yah jatuh kan baksonya”.  Kata ku sambil memasang muka kaget dan melas.  “hahahahaha”.  Tawa Angga.  “Angga ganti baksonya, harus ganti pokoknya, gak mau tau”.  Marah ku.  “gak mau, weee”.  Ujar Angga dan langsung berlari keluar kantin.  Oh ya, Pak muklis adalah penjaga sekolah kami.
Saat pulang sekolah aku tidak pulang bersama dengan angga karena aku ada tugas yang belum aku selesaikan.  Sewaktu aku keluar dari sekolah aku melihat perempuan yang ku lihat pagi tadi di kantin. Saat aku sedang di jemputan termahal ku yaitu angkot, aku melihat perempuan itu dari kejauhan, ku lihat ia sedang menuju ke arah angkot yang ku naiki, firasat ku berkata ia akan naik angkot ini, dan firasat ku benar, ia semakin mendekat dengan angkot yang ku naiki dan akhirnya ia naik angkot yang ku naiki.  Di perjalanan aku bimbang, mau kenalan atau tidak dengan perempuan itu.  Dan akhirnya aku putuskan untuk membuka percakapan dengan perempuan itu.  “Hai, perkenalkan namaku Dimas Choilil Putra, nama kamu siapa ?”.  sapa ku memulai percakapan.  “Hai juga, nama ku Kirana Dwi Putri, panggil aja kirana”.  Balas dia memperkenalkan diri. “bang, bang, kiri bang”.  Ujar ku memberhentikan angkot. “Aku duluan ya”.  Ucap ku. “iya”.  Ucap dia.
Teeeet …teeeet …teeeet
Bel istirahat berbunyi
_Angga_
Di perjalanan menuju ke kantin.  “Dim kemarin kamu kemana aja ?”.  Tanya ku.  “Habis ngerjain tugas”.  Jawab dimas.  “Oh, pantes aku tungguin di gerbang sekolah gak nongol-nongol”.  Ucap aku.  “Oh ya, kemarin aku bertemu dengan perempuan, yang ku maksud di kantin kemarin pagi”.   Kata Dimas.  “Kamu kenalan sama dia ?”.  Tanya Angga.  “Ya dong”.  Ujar Dimas.  “Namanya siapa ?”. Tanya aku.  “namanya kalo gak salah Kirana”.  Jawab Dimas.  “Kelas berapa dia ?”.  Tanya ku lagi.  “Nggak tau deh, aku belum sempat ngobrol sama dia lebih lama”.  Jawab Dimas.  “Oh, nanti mau pulang sama aku gak ?”.  Tanya ku, memastikan.  “mmm……, gak tau deh”.  Jawab Dimas bimbang.  “Oh yaudah nanti aku tunggu di pintu gerbang sekolah selama 20 menit setelah pulang sekolah, oke !”.  Ucap aku.  “oke deh”.  Jawab Dimas.
Teeeet … teeeet … teeeet
Bel pulang sekolah berbunyi
“Aduh si Dimas kemana sih ?, lama banget, malah aku kebelet lagi”.  Gerutu ku. Selama 20 menit aku menunggu di pintu gerbang sekolah, Dimas tidak muncul juga, akhirnya aku tinggal Dimas di sekolah.
-Dimas-
“Akhirnya selesai juga”.  Ucap aku lega.  Saat aku keluar kelas, ternyata, aku bertabrakan dengan Kirana.  “Aduh”.  Ucap Kirana.  “Aduh, maaf-maaf, tidak sengaja”.  Ucap aku.  “Iya-iya, Dimas ?”.  Sapa Kirana.  “Iya, Kirana ?”.  Sapa aku.  “iya, ternyata kita bertemu lagi ya”.  Kata Kirana.  “iya-ya gak nyangka”.  Ujar aku.  “oh ya, mau pulang bersama tidak ?”.  Tanya Kirana.  “mau, lagian teman aku sudah ninggalin aku”.  Kata aku.  “Yaudah, pulang yuk”.  Seru Kirana.  “Yuk”.  Ucap aku.  Di perjalanan kami mengobrol banyak sekali.  “Oh ya, aku mau tanya, kamu kelas berapa ?”.  Tanya aku.  “Aku kelas 8.5, kamu kelas berapa ?”.  Kata Kirana berbalik bertanya.  “Aku kelas 8.6, kok aku gak pernah ngeliat kamu ya ?”. Tanya aku.  “Iya, soalnya aku baru pindah”.  Jawab Kirana.  “Ohhh, baru pindah toh”.  Kata aku. “Kamu turun dimana Dim ?”.  Tanya Kirana.  “Oh iya, hampir lupa”.  Ucap aku.  “Bang udah sampe mana ini bang ?”.  tanya aku.  “Udah sampe toko buku indah”.  Jawab abang itu.  “hah, kelewat”.  Ucap aku.  “Kelewat apaan ?”.  Tanya Kirana.  “Rumah”.  Jawab aku sekenanya.  “Rumah ?”.  Tanya Kirana lagi.  “Rumah aku kelewat”.  Kata aku kebingungan dan terpaksa aku harus berjalan kaki ke rumah.
_Angga_
Di kantin, “Dim, aku punya kenalan baru loh”.  Ucap aku.  “Kenalan apaan ?”.  Tanya Dimas.  “Kenalan sama perempuan”.  Jawab aku.  “perempuan ?, siapa namanya ?”.  Tanya Dimas.  “Namanya Kirana Dwi Putri”.  Jawab aku.  “Kirana Dwi Putri ?”.  Tanya Dimas, mengulang nama yang ku katakan.  “Iya”.  Ucap aku.  “Kok kaya pernah kenal ya namanya ?, dia kelas berapa ?”.  Tanya Dimas, seperti mengintrogasi.  “Dia kelas 8.5”.  Jawab aku lagi.  “hah, 8.5”.  Ucap Dimas.  “Kamu kenapa Dim ?, kok kaget gitu sih ?”.  Tanya aku.  “Dia itu yang waktu itu aku certain sama kamu”.  Ujar Dimas.  “Oh itu dia, terus mau di apain si Kirananya ?”.  Ucap aku sekenanya. “Gak sih”.  Ucap Dimas lalu pergi meninggalkan aku di kantin.  “Si Dimas kenapa ya ?, kok aku kenalan sama si Kirana dia jadi gak karuan begitu ya ?, udahlah biarin aja lah mungkin dia hanya kaget kali ?”.  Ucap aku bertanya-tanya dalam hati.
-Dimas-
“Kok si Angga bisa kenalan ya sama Kirana ?, tau dari mana dia ya ?”.  Ucap aku dalam hati.  Bel pulang sekolah sudah berbunyi aku tunggu si Angga di pintu gerbang sekolah, ternyata dia keluar bersama Kirana gadis cantik itu. Kemudian aku melambaikan tangan kepada Angga  “Angga mau pulang gak ?”.  Tanya aku, sambil berteriak.  “Iya”.  Ucap Angga.  Akhirnya aku pulang bertiga, aku,Angga,dan Kirana.  Di angkot aku dan Kirana duduk bersebelahan, jantungku serasa berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Setelah sampai di rumah aku langsung membanting diriku ke tempat tidur kemudian aku memegang dadaku dan sampai sekarang dadaku masih berdebar-debar tak karuan.  “Apa yang terjadi ya tuhan”.  Kata ku dalam hati.  Kemudian lama-kelamaan aku terlelap dan bangun esok pagi.
~Kirana~
Semenjak aku bertemu sama Dimas, aku merasa ada yang berbeda dari aku.  “Hai”.  Sapa Dimas.  “Hai juga”.  Balas ku.  “Kamu habis dari mana ?”.  Tanya Dimas.  “Dari UKS”.  Jawab ku.  “Memang kamu kenapa ?”.  Cemas Dimas.  “Gak apa-apa kok, Cuma pusing aja”.  Ucap ku.  “Oh, yaudah hati-hati ya !”.  Ujar Dimas.  Aneh, tidak biasanya Dimas seperti itu kepadaku.
_Angga_
Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku keluar dari sekolah sambil mencari-cari Kirana, karena aku mau memberi dia puisi baru-ku (sejak kapan bikin puisi).  “Kiranaaa”.  Teriak ku.  Kirana mencari siapa yang baru saja menyebut namanya.  “Di sini”.  Kata ku, sambil melambaikan tangan.  Kirana pun mendekat ke arah ku.  “Kirana aku punya puisi baru nih, mau baca gak ?”.  Tawar ku.  “Mau dong”.  Ucap dia.  “Di baca ya dirumah”.  Seru ku.  “Iya”.  Ujar dia.  “Janji ?”.  Tanya ku.  “Iya, janji’.  Jawab dia.
~Kirana~
‘Karangan Cinta’
Di ujung jalan ku melihat mu
Bersama dua orang teman mu itu
Berjalan mendekat ke arah ku
Ingin hati ini berkenalan dengan mu
Tetapi jiwa ku belum begitu kuat
Untuk berkenalan dengan mu
“Bagus juga puisinya”.  Ucap ku dalam hati.  Setelah membaca puisi itu aku langsung membanting diri ku ke tempat tidur ku,  dan langsung terlelap.  Keesokan hari, “Angga !”.  Panggil ku.  Angga langsung menghampiri diri ku.  “Iya, ada apa ?”.  Tanya Angga.  “ini puisi yang kemarin kamu kasih ke aku”.  Ujar ku sambil menyodorkan kertas putih itu ke Angga.  “Udah simpan aja sama kamu !”.  Seru Angga.  “Loh, ini kan punya kamu”.  Kata ku.  “Udah simpan aja, lagian aku udah ada kok salinannya, kalau kamu mau puisi lagi aku buatkan, bilang aja ya, oke!”.  Kata Angga sembari mengembalikan kertas itu kepadaku.
(Other)
“Dim, aku boleh curhat gak sama kamu ?”.  Tanya Angga.  “Boleh kok, emang mau curhat apa ?”.  Ucap Dimas.  “gini loh sebenarnya aku tuh suka sama Kirana”.  Ujar Angga.  ‘hah Angga suka sama perempuan yang sama-sama aku suka’.  Ucap ku dalam hati.  “Terus ?”. Tanya Dimas ingin tahu.  “Terus, aku mau nembak dia, tapi gimana ya nembak nya ?”.  Tanya Angga bingung.  “Yaudah, kalau kamu mau nembak, ya tinggal nembak aja”.  Kata Dimas.  “Terus nembak nya gimana ?”.  Tanya Angga.  “Kamu ketemuan sama dia, di suatu tempat, terus kamu bilang aku sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku, begitu”.  Ucap Dimas.  “Oh, oke-oke !”.  Ujar Angga.
Setelah pulang sekolah, Angga menunggu Kirana di pintu gerbang sekolah.  “Kiranaaa !!”.  Panggil Angga.  “Iya”.  Jawab Kirana.  “Mau ikut aku gak ?”.  Tanya Angga.  “Kemana ?”.  Tanya Kirana. Tanpa persetujuan dari Kirana, Angga langsung menarik Kirana ke belakang sekolah.  “Kirana sebenarnya aku suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku ?”.  Tanya Angga.  Kirana terdiam sesaat, kemudian berkata, “Mmmm, gimana ya ?”.  Kirana bimbang.  ‘sebenarnya aku gak suka sama kamu, aku tuh sukanya sama Dimas’, kata ku dalam hati.  “Yaudah deh, terserah kamu mau jawab pertanyaan aku tadi kapan, aku pasti siap kok”.  Ucap Angga.
~Kirana~
“Ya tuhan, apa yang harus ku lakukan terhadap perasaan ku ?”.  Ujar ku.  “Aku sebenarnya tidak suka sama Angga, tetapi aku sukanya sama Dimas”.  Ucap ku.  “Apa aku harus terima Angga ?”.   Kata ku bimbang.
Keesokan hari
“Anggaaa !!”.  Panggil aku.  Angga mendekat ke arah Kirana. “Iya, ada apa ?”.  Tanya Angga.  “Untuk pertanyaan kemarin, aku mau kok terima kamu jadi pacar aku”.  Kata aku.  “Yang bener, kamu gak terpaksa kan ?”.  Tanya Angga kegirangan.  “Gak kok”.  Ucap aku.  “Yaudah, berarti mulai sekarang kita pacaran ?”.  Tanya Angga.  “Iya dong”.  Kata aku.  “Yeah”.  Ucap Angga.
-Dimas-
“Angga !!”.  Panggil aku.  Angga menengok ke arah ku.  “Iya ?”.  Tanya Angga.  “Kamu udah jadian ya sama Kirana ?”.  Kata aku.  “Iya”.  Ucap Angga.  “Sebenernya aku mau jujur atas perasaan ku selama ini, sebenernya aku suka sama Kirana”.  Ucap ku.  “Hah!!”.  Ujar Angga kaget.  “Yaudah, tapi aku seneng kok, kalau kamu jadian sama Kirana”.  Ucap ku agak sedih.  “Tapi…”.  Belum sempat Angga bicara, aku lalu pergi meninggalkan Angga.
‘Kini Angga tidak akan pulang bersama aku, begitu pun Kirana’,  kata ku dalam hati, aku harus bilang ke Kirana kalau aku akan pergi jauh dari hidupnya.
~Kirana~
Saat jam istirahat, Dimas menghampiri ku sambil membawa secarik kertas yang berisi
‘Kirana maafkan aku, bukan maksud ku untuk begini, tapi aku sudah tak tahan lagi, aku ingin membicarakan hal ini dengan mu sejak pertama kali aku bertemu dengan mu, sebenarnya aku suka padamu semenjak aku pertama kali melihat mu di kantin saat jam istirahat, saat aku bertemu dengan mu di angkot lalu berkenalan dan aku mengetahui nama mu aku senang sekali, dan kita jadi sering pulang bersama, akan tetapi aku belum siap untuk menjadikan mu pacarku karena aku belum begitu jauh mengenal dirimu, dan Angga muncul dalam dunia kita berdua, ia berkenalan dengan mu dan dalam beberapa hari, Angga langsung menjadikan dirimu pacar.  Dan kini aku tidak akan mengganggu dunia kalian berdua yang baru saja kalian bangun beberapa hari lalu, kini aku lebih baik pergi dari dunia kalian berdua, karena aku hanya bisa merusak dunia kalian berdua. Selamat tinggal !!’
itulah isi kertas yang di beri oleh Dimas.
_Angga_
Aku dan Kirana, menghampiri Dimas yang sedang berjalan menuju pintu gerbang sekolah.  “Dim, kalau kamu suka sama Kirana, cerita dong sama aku, kan kalau kamu cerita pasti gak bakal kejadian kaya gini kan !”.  marah ku.  “Maksud kamu apa sih Ang ?”.  Tanya Dimas keheranan.  “Apa maksudnya kertas ini ?”.  Tanya ku dengan nada tinggi.  “Mmmm…anu...eh”.  Ucap Dimas bingung mau bicara apa.  “Yaudah, gini aja, aku dan Kirana putus, kamu jadian sama Kirana, oke ?!”.  Ujar ku.  “Hah ?, kok gitu, gak-gak, aku gak mau kamu sama Kirana putus hanya gara-gara aku”.  Ujar Dimas.  Kirana hanya bisa terdiam.  “Aku pasti bahagi melihat orang yang ku sayang bahagia, walaupun tidak bersama ku”.  Ucap ku.  “Gak kok, aku gak apa-apa”.  Ucap Dimas, langsung berlari menuju keluar sekolah dan menyebrang kejalanan raya.  “Dimas”.  Cegah aku.  CKIIIT!!, terdengar suara dari arah jalan raya.  Kirana menoleh ke jalan raya. Kirana dan aku melihat tempat Dimas menyebrang di kerumuni orang-orang.  Jantungnya berdegup kencang, ia segera berlari kea rah kerumunan di ikuti oleh Angga.  Jangan sampai ini terjadi… jangan …!, Kirana membatin.
Ia menyeruak kerumunan dan mendapati seorang laki-laki yang baru saja hadir dalam hidupnya, terbujur di tengah jalan di bahasi oleh darah di sekujur tubuhnya. Ia memekik pelan dan berteriak dalam hati, mengapa ini harus terjadi ?, mengapa ?, padahal ia baru saja hadir dalam dunia ku, mengapa Tuhan ?.
èTAMATç